Jumat, 20 November 2020

Resensi Buku Non-Fiksi

 Identitas Buku

Judul Buku                   : Seni Budaya

Penulis Buku                : Zackaria Soetedja, Dewi Suryati, Milasari, Agus Supriatna

Penerbit Buku             : Pusat Kurikulum dan Pembukuan, Balitbang, Kemendikbud

Cetakan                       : 1, 2014 ISBN 978-602-282-458-9 (Jilid 1)

                                      2, 2016 (Edisi Revisi)

                                      3, 2017 (Edisi Revisi)

Tebal Buku                  : 240 Halaman



Sinopsis Buku Seni Budaya

Pelajaran seni budaya sangatlah penting di masa sekarang, pelajaran ini mendorong kita agar bisa lebih aktif lagi. dalam pelajaran seni kali ini kita akan mempelajari tentang pameran karya seni rupa, kritik karya seni rupa, pertunjukan musik, kritik musik, meragakan gerak tari tradisional, kritik tari, merancang pementasan teater, pementasan teater. buku ini tidak hanya mencakup keterampilan seni saja tetapi juga mencakup teori-teori seni. buku ini digunakan untuk membantu pembentukan manusia melalui seni. 

kegunaan kita mempelajari buku ini selain untuk memperdalam ilmu seni kita. kita juga sambil melestarikan kebudayaan kita. dan sambil menghargai seni dan warisan budaya yang kita miliki. oleh karena itu kita harus mempelajari buku ini. buku ini bisa digunakan di dalam sekolah maupun di luar sekolah. karena pada dasarny buku ini sama-sama buku pembimbing untuk mempelajari seni. 

buku ini dipersiapkan untuk kelas 10 semester 2. materi-materi yang terdapat dalam buku ini sudah dirangkum sedemikian rupa untuk dipelajari di kelas 10 pada semester ke 2. diharapkan buku ini dapat membantu pada murid serta guru-guru untuk mengajar dan mempelajari seni lebih mendalam lagi, sehingga kebudayaan bisa terus di lestarikan dan dikembangkan. 

Kelebihan Buku

Buku ini mampu memberikan informasi tentang berbagai macam seni dan memberikan detail-detail yang memudahkan. Serta diberikan juga teknik-teknik dalam melakukan sebuah seni tersebut. buku ini bisa membantu kita untuk mempelajari seni karena cukup banyak materi-materi yang relevan dengan zaman sekarang 

Kekurangan Buku

Sangat sedikit contoh gambar dalam buku ini, dan terkadang terdapat kata-kata yang sulit untuk dimengerti

Minggu, 01 November 2020

Buku Fiksi dan Nonfiksi

Buku fiksi merupakan salah satu jenis narasi literer dan termasuk jenis cerita rekaan. Isi dari buku fiksi berusaha untuk menghidupkan perasaan atau menggugah emosi pembacanya melalui kata yang digunakan serta pesan yang disampaikan oleh pengarang.

Karakteristik buku fiksi adalah sebagai berikut.

a.       Menggunakan gaya bahasa

b.       Bersifat konotasi atau makna yang ditambahkan

c.       Berbentuk novel atau puisi atau cerpen

d.       Isi berdasarkan imajinasi atau khayalan

Buku nonfiksi merupakan karya yang bersifat faktual atau peristiwa yang benar-benar terjadi. Buku ini berfungsi sebagai penunjang buku utama, yaitu buku teks pelajaran.

Karakteristik buku nonfiksi adalah sebagai berikut.

a.       Materi dapat bersifat kenyataan atau rekaan

b.       Pengembangan materi tidak terkait langsung dengan kurikulum atau kerangka dasarnya

c.       Materi disajikan secara populer atau teknik lain yang inovatif

d.       Penyajian materi dapat berbentuk deskripsi, eksposisi, argumentasi, narasi, puisi, dialog, dan/atau menggunakan penyajian gambar

e.       Penggunaan media bahasa atau gambar dilakukan secara inovatif dan kreatif

Untuk menyusun laporan hasil membaca buku fiksi maupun nonfiksi, diperlukan analisis unsur intrinsik dan ekstrinsiknya.

Unsur intrinsik adalah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya sastra. Berikut ini adalah penjelasan mengenai unsur-unsur intrinsik.

a.       Alur

Alur atau jalan cerita merupakan pola pengembangan ncerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat. Intiasari alur ada pada permasalahan cerita. Akan tetapi suatu permasalahan dalam cerita tak bisa dipaparkan begitu saja; jadi harus ada dasarnya. Oleh karena  itu, alur terdiri atas (1) saling mengenal, (2) munculnya konflik, (3) konflik meninggi, (4) klimaks, dan (5) menyelesaikan konflik atau masalah.

b.       Tema

Tema adalah inti atau ide pokok dalam cerita. Tema merupakan awal tolak pengarang dalam menyampaikan cerita. Tema suatu cerita menyangkut segala persoalan dalam kehidupan manusia, baik masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, dan sebagainya,

c.       Penokohan

Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Untuk menggambarkan karakter seorang tokoh, pengarang dapat juga menyebutkan langsung, misalnya si A itu penyabar, si B itu murah hati. Penjelasan karakter tokoh dapat pula melalui gambaran fisik dan perilakunya, lingkungan kehidupannya, cara bicaranya, jalan pikirannya, ataupun melalui penggambaran oleh tokoh lain.

d.       Sudut pandang

Sudut pandang adalah posisi pengarang atau narator dalam membawakan cerita tersebut. Posisi pengarang dalam menyampaikan cerita ada beberapa macam : narator serba tahu adalah narator bertindak sebagai pencipta segalanya yang serba tahu. Ia tahu segalanya, ia dapat menciptakan segala hal yang di inginkannya. Ia dapat mengeluarkan dan memasukkan para tokoh. Ia dapat mengemukakan perasaan, kesadaran, ataupun jalan pikiran para tokoh cerita. Pengarang dapat mengomentari kelakuan para tokoh-tokoh dalam cerita, bahkan juga dapat berbicara langsung dengan pembacanya. Narator objektif adalah pengarang tak memberi komentar apapun. Pembaca hanya disuguhi “hasil pandangan mata”. Pengarangnya menceritakan apa yang terjadi seperti penonton melihat pementasan drama. Pengarang sama sekali tak mau masuk ke dalam pikiran para pelaku. Dalam kenyataanya, orang memang hanya dapat melihat apa yang dilakukan orang lain. Dengan melihat kelakuan orang lain tersebut, juga boleh menilai kehidupan kejiwaannya, kepribadiannya, jalan pikirannya, dan perasaanya. Motif tindakan pelakunya hanya bisa kita nilai dan perbuatan mereka. Dalam hal ini, jelaslah bahwa pembaca sangat diharapkan pertisipasinya. Pembaca bebas menafsirkan apa yang diceritakan pengarang. Narator aktif adalah narator juga aktor yang terlibat dalam cerita tersebut yang terkadang fungsinya sebagai tokoh sentral. Tampak dalam penggunakaan kata ganti orang pertama (aku, kami). Dengan posisi yang demikian, narator hanya boleh melihat dan mendengar apa yang orang biasa lihat atau dengar. Selanjutnya narator mencatat tentang apa yang dikatakan atau dilakukan tokoh lain dalam suatu jarak penglihatan dan pendengaran. Narator juga tidak dapat membaca pikiran tokoh lain kecuali hanya menafsirkan dari tingkah laku fisiknya. Narator juga tidak dapat melompati jarak yang besar. Hal-hal yang bersifat psikologis dapat dikisahkan jika menyangkut dirinya sendiri. Narator sebagai peninjau adalah pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Seluruh kerjadian yang ada pada cerita lakukan bersama tokoh ini. Tokoh ini bisa bercerita tentang pendapatnya atau perasaannya sendiri. Sementara itu, terhadap tokoh-tokoh lain, ia hanya boleh menyampaikan tentang, kita sesuai apa yang ia lihat. Jadi teknik ini merupakan penuturan pengalaman seseorang. Dalam beberapa hal, teknik ini sebenarnya hampir sama dengan teknik orang pertama, tetapi teknik ini lebih bebas dan fleksibel dalam bercerita.

e.       Latar

Latar merupakan tempat, waktu dan suasanya terjadinya perbuatan tokoh atau peristiwa yang dialami tokoh. Dalam cerpen, novel, ataupun bentuk prosa lainnya. Terkadang biasanya tidak disebutkan secara jelas latar perbuatan tokoh itu, misalnya, di tepi hutan, di sebuah desa, pada suatu waktu, pada zaman dahulu, di kala senja

f.        Amanat

Amanat merupakan ajaran moral atau pesan yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karya yang diciptakannya itu. Tidak terlalu berbeda dengan bentuk cerita yang lainnya, amanat dalam novel akan disimpan rapi dan disembunyikan pengarangnya dalam keseluruhan isi cerita. Oleh karena itu, untuk mendapatkannya, tidak cukup hanya membaca dua atau tiga paragraf, melainkan membaca cerita tersebut sampai tuntas.

Unsur ekstrinsik adalah bagian atau komponen yang terdapat dalam sebuah karya sastra (cerpen, novel, puisi dan lainnya) yang membentuk atau membangun sebuah karya sastra dari luar. Dengan kata lain, unsur ekstrinsik adalah unsur yang memengaruhi sebuah karya sastra yang berasal dari luar. Jadi unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berada di luar karya sastra. Namun memiliki pengaruh terhadap karya sastra secara tidak langsung. Berikut ini adalah unsur-unsur ekstrinsik karya sastra.

a.       Latar belakang/biografi pengarang

Biografi adalah sebuah kisah yang menceritakan proses kehidupan seseorang (pengarang karya sastra) untuk mengetahui latar belakang atau biografi sang penulis dapat melalui beberapa faktor. Pertama dapat dilakukan dengan meninjau riwayat hidup. Dengan meninjau riwayat hidup, kita dapat mengetahui tentang biografi, pendidikan, prestasi, dan lain-lain terkait dengan penulis. Faktor ini snagat berpengaruh terhadap pola pikir dan paradigma tentang suatu hal yang dipandangnya.

Kedua, kondisi psikologis penulis. Faktor ini akan menunjukkan motivasi atau mood seorang penulis dalam megnhasilkan sebuah karya sastra. Kita dapat melihatnya dengan cara memerhatikan pola hidupnya stiap hari, memerhatikan mimik wajahnya, memerhatikan kegiatannya, atau bahkan dapat menanyakannya secara langsung kepada penulis tersebut. 

Ketiga, aliran sastra penulis. Aliran sastra penulis merupakan suatu panutan yang diyakini oleh seorang penulis dan setiap penulis memiliki aliran sastra yang berbeda antara penulis satu dengan penulis yang lain. Hal tersebut akan dapat memengaruhi terhadap gaya behasa yang idgunakan dalam menghasilkan sebuah karya sastra.

b.       Kondisi masyarakat dan lingkungan penulis

Salah satu unsur yang dapat memengaruhi pembentukan sebuah karya sastra adalah unsur kondisi masyarakat dan lingkungan penulis. Unsur tersebut akan memberikan pengaruh terhadap hasil dari sebuah karya sastra, pengaruh yang diberikan dapat berbentuk gaya bahasa yang digunakan, model dari sebuah karya sastra, bahkan latar dapat dipengaruhi oleh unsur kondisi masyarakat dan lingkungan sang penulis.

Terdapat beberapa faktor yang ada di dalam unsur kondisi masyarakat dan lingkungan penulis, yaitu :

1.       Ideologi suatu negara

2.       Kondisi politik yang diamati oleh penulis

3.       Kondisi sosial masyarakat tempat penulis tinggal

4.       Kondisi lingkungan tempat penulis tinggal

5.       Kondisi ekonomi yang dialami penulis dan masyarakat lingkungannya

c.       Nilai-nilai yang tersemat dalam karya sastra

Unsur ini hampir sama dengan unsur amanat yang ada dalam unsur intrinsik, yaitu memberikan pengetahuan dan pemahaman akan sesuatu terhadap pengamanat melalui kandungan nilai-nilai yang tersemat dalam sebuah karya sastra tersebut. Nilai-nilai yang ada dalam unsur ekstrinsik berpengaruh tidak nyata, namun dapat dirasakan keberadaannya dengan sebuah pemahaman yang mendalam akan sebuah karya sastra. Dengan memahami secara mendalam arti kandungan sebuah karya sastra, kita dapat menganalisis nilai-nilai apa saja dan amanat apa saja yang ada di dalam karya sastra tersebut. Berikut adalah nilai-nilai yang dapat memengaruhi sebuah karya sastra.

1.       Nilai agama

Nilai agama yang terkandung dalam sebuah karya sastra pada umumnya memberikan gambaran terkait dengan tuntutan, hukum. Ajaran, amanat, dan lain-lain suatu agama yang dikemas ke dalam sebuah karya sastra dengan baik dan indah.

2.       Nilai sosial

Nilai sosial dalam sebuah karya sastra pad aumumnya juga memberikan penjelasan dan gambaran terkait dengan fenomena sosial, rekonstruksi sebuah masyarakat, amanat, dan lain-lain dan juga dikemas indah ke dalam sebuah karya sastra.

3.       Nilai moral

Nilai yang ketiga adalah nilai moral yang merupakan nilai yang memberikan gambaran ke dalam sebuah kerya sastra terkait dengan etika atau akhlak dalam berprilaku terhadap sesama. Nilai moral dalam sebuah karya sastra biasanya ditunjukkan dengan adanya sebuah perilaku dan tutur kata baik yang diperankan oleh tokohnya.

4.       Nilai budaya

Nilai budaya dalam sebuah karya sastra menceritakan tentang sebuah kebudayaan, tradisi, adat istiadat yang berlaku dalam suatu wilayah tertentu. Nilai budaya juga dapat memberikan amanat terkait dengan pelestarian budaya, dan amanat-amanat yang lainnya.

 

Sumber : Buku Bahasa Indonesia kelas XII SMK/MAK Yudhistira, Buku Bahasa Indonesia Bumi Aksara

 

Teks Eksplanasi